Kamis, 29 November 2018

Pentingnya Mengenalkan Air pada Si Kecil

“Ibu, aku ga mau mandi. Aku takut hidungku kemasukan air seperti waktu berenang!” Hal seperti ini mungkin sering kita dengar dari anak usia dini, yang selanjutnya kita sebut si kecil. Ucapan-ucapan berupa penolakan terhadap air, merupakan salah satu efek dari kurang maksimalnya kita sebagai orang yang lebih tua untuk mengenalkan air kepada si kecil. Padahal air merupakan hal pokok bagi manusia.
Komponen terbanyak dari tubuh kita adalah air. Bahkan ketika masih janin, kandungan air dalam tubuh mendekati 100 persen, kemudian setelah lahir kandungan air dalam tubuh mulai berkurang menjadi 80 persen, kemudian ketika dewasa menjadi 70 persen, dan ketika sudah lanjut usia bisa menjadi 50 persen. Hal lainnya, bahwa dalam tiap sendi kehidupan manusia membutuhkan air seperti mandi, memasak, menyiram tanaman, menggosok gigi, dan mencuci.
Pengenalan air sangat penting, agar nantinya si kecil bisa menjaga kelestarian air. Si kecil dengan keingintahuannya dan sebagai manusia yang aktif dalam mencari tahu melalui pengalamannya sendiri, akan mencoba mengindentifikasi air. Dengan mengamati air ini, si kecil dapat diajak memahami apa, sifat, manfaat dan bahaya air. Si kecil juga bisa diajak berdiskusi secara sederhana untuk menjaga kebersihan air, agar tidak terjadi bahaya banjir, dan lain-lain.
Untuk mengenalkan air kepada si kecil, bisa dengan cara berikut ini:
Pertama, percobaan sains sederhana. Misal, membuat sirup. Ketika sirup dituangkan di dalam gelas yang berisi air putih, si kecil akan belajar tentang berubahnya air putih jika dicampur dengan senyawa lain.
Kedua, menceritakan soal air dengan alat peraga, bisa berupa boneka jari atau wayang. Dengan penuturan yang menarik, kita bisa menjabarkan tentang banyak hal seperti manfaat air, jenis air, cara agar hemat air, sehingga anak tidak jenuh.
Ketiga, pemutaran video. Melalui video, anak dengan gaya belajar audio visual akan terfasilitasi untuk melihat proses terjadinya hujan, sumber-sumber air, dan tentang kesehatan tubuh dengan menjaga kebersihan air, dan lain-lain.
Keempat, bernyanyi. Melaui teknik bernyanyi, kita bisa menambah nilai seni bagi si kecil, sembari mengenalkan air. Seperti dengan menyanyikan lagu "Tik-tik bunyi hujan", anak akan belajar bernyanyi, selain belajar tentang hujan.
5. Bermain. Teknik bermain ini sangat disukai anak, sekaligus tidak membebani anak dalam menerima materi pembelajaran seperti simulasi bahaya banjir, simulasi menjaga kebersihan diri dan ligkungan. Anak bisa bergerak aktif dan bisa mengambil kesimpulan sendiri setelah permainan terkait air. Sumber://http://anggunpaud.kemdikbud.go.id/index.php/berita/index/20170531122753/Pentingnya-Mengenalkan-Air-pada-Si-Kecil


Kamis, 15 November 2018

Pendidikan anak usia dini

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaanyang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal[1].
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan 6 (enam) perkembangan: agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini seperti yang tercantum dalam Permendikbud 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional PAUD (menggantikan Permendiknas 58 tahun 2009).
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini, yaitu:
  • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
  • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah, sehingga dapat mengurangi usia putus sekolah dan mampu bersaing secara sehat di jenjang pendidikan berikutnya.
Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun (masa emas).
Ruang lingkup Pendidikan Anak Usia Dini, di antaranya: bayi (0-1 tahun), balita (2-3 tahun), kelompok bermain (3-6 tahun), dan sekolah dasar kelas awal (6-8 tahun). https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/Permendikbud137-2014StandarNasionalPAUD.pdf 

Senin, 22 Oktober 2018

DO'A DIHARI SANTRI

Peringatan hari santri nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2018 ini diramaikan dengan berbagai kegiatan dari pondok pesantren diseluruh Indonesia. Semoga kita semua mendapat keberkahan dari do'a para kyai sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih sholih- sholihah dan senantiasa beriman bertaqwa kepada Allah SWT.

SEKOLAH DI RUMAH SISWA ANANDA DANENDRA ADJI....


Program Unggulan yang dilaksanakan di KB IT Al Firdaus Gubug ini bernama “ SEKOLAH DI RUMAH SISWA”                                                                                                                                    

PProgram Sekolah Di Rumah siswa ini dilaksanakan dengan latar belakang masalah  sebagai berikut :
1.      Program kurikulum untuk mencari suasana belajar yang berbeda
2.      Kondisi geografis yang saling berjauhan antara rumah siswa dengan siswa lainnya
3.      Kesibukan orang tua sehingga kurang informasi tentang parenting

    PERUMUSAN MASALAH
“Mencari Alternatif Kegiatan Belajar Yang Menyenangkan Dengan Suasana Yang Berbeda Sekaligus Sebagai Sarana Tholabul ‘Ilmi Untuk Orang Tua Siswa”

Program Sekolah Di Rumah siswa ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut :
1.      Berusaha memberikan suasana KBM yang berbeda dan fresh baik bagi guru maupun siswa supaya tidak jenuh
2.      Sebagai salah satu sarana untuk mengeratkan ukhuwah dan jalinan silaturahmi baik antar siswa, guru maupun orang tua
3.      Sarana bagi orang tua untuk mendapatkan ilmu tentang parenting.



Kamis, 18 Oktober 2018

10 IDE KEGIATAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI RUMAH

Tahukah, Bunda? Kegiatan pendidikan anak usia dini tidak hanya dapat dilakukan di sekolah, lho. Nyatanya, kegiatan belajar yang dilakukan si kecil bersama Bunda di rumah justru bisa lebih menarik dan dapat mengajari si kecil banyak hal. Si kecil akan merasa lebih leluasa ketika melakukan kegiatan bersama Bunda sehingga ia menjadi lebih siap untuk mengembangkan minat belajarnya. Maka dari itu, Bunda harus cerdas menyiapkan berbagai kegiatan pendidikan anak usia dini di rumah. Prinsip pendidikan anak usia 2-4 tahun adalah bermain sambil belajar atau belajar melalui bermain. Jadi, perlu Bunda ingat bahwa pada usia ini si kecil tidak harus diajari membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Tapi, Bunda dapat mengenalkannya pada kegiatan belajar sambil memfasilitasi minat belajarnya tersebut. Selain itu, Bunda juga dapat mengenalkan bagaimana sikap anak yang baik seperti santun, percaya diri, dan tertib. Nah, untuk memulai kegiatan pendidikan anak usia dini di rumah bersama si kecil, 10 ide berikut ini bisa Bunda coba di rumah:
  1. Mengenalkan huruf dengan magnet kulkas
Kenalkan minimal 5 huruf per hari menggunakan magnet kulkas. Minta ia menebak huruf yang telah Bunda kenalkan. Kenalkan juga bagaimana cara mengeja nama si kecil.
  1. Mengenalkan warna, bentuk, dan anggota tubuh
Rajinlah mengajak si kecil mengobrol dan menanyakan berbagai benda di sekitarnya. Misalnya, “Bola ini warnanya apa?” atau “Topi ini bentuknya apa, ya?” Selain itu, Bunda juga bisa bermain tebak anggota tubuh, seperti “Hidung Adek yang mana, ya?” atau “Tangan kanan Adek yang mana?”
  1. Menghitung mainan si kecil
Ketika mengajak si kecil membereskan mainannya, ajak ia sambil menghitung berapa mobil-mobilannya, berapa bolanya, dan berapa bonekanya. Dengan cara ini, si kecil akan belajar tentang konsep berhitung dan mengelompokkan benda.
  1. Menggambar dan mewarnai dengan krayon
Siapkan kertas dan krayon yang cukup besar. Biarkan anak mencoret-coret sesuai imajinasinya atau mewarnai gambar yang telah disediakan. Melalui kegiatan pendidikan anak usia dini yang pasti disukai si kecil ini, ia akan melatih kemampuan koordinasi tangan dan mata, termasuk memegang alat tulis dengan baik.
  1. Bermain playdough
Playdough
juga bermanfaat untuk mengembangkan imajinasi anak dan melatih otot tangannya melalui kegiataan meremas, memilin, dan menggulung. Efeknya, kemampuan motorik halus pada tangan si kecil akan terlatih dan hal ini berguna untuk kegiatan menulis.
  1. Menghias kartu
Menghias kartu nama atau kartu ucapan terdiri dari kegiatan menggambar, mengelem, dan menempelkan. Kegiatan ini sangat baik untuk mengembangkan motorik halus dan tentu saja kreativitas si kecil. Tapi, awasi si kecil ketika ia menggunakan lem, jangan sampai ia menjilatnya ya, Bunda.
  1. Dibacakan buku cerita
Minta anak menunjukkan gambar yang ada pada buku ketika Bunda membacakan cerita untuknya. Bunda juga bisa memintanya menceritakan ulang cerita yang telah dibacakan.
  1. Bermain balok dan puzzle
Permainan balok dan puzzle baik untuk melatih daya konsentrasi si kecil. Dampingi ia untuk mengenalkan tentang pentingnya kesabaran dalam bermain.
  1. Menyanyi lagu anak-anak
Tak ada anak yang tak suka menyanyi. Lewat menyanyi lagu anak-anak, Bunda bisa menghadirkan keceriaan dan menyampaikan moral baik apa pun yang Bunda ingin ajarkan padanya.
  1. Bermain bersama anak tetangga
Dengan bermain bersama teman sebayanya, si kecil akan belajar berinteraksi, berbagi, dan bekerja sama. Tugas Bunda adalah mendorongnya untuk lebih percaya diri dan mengenalkan aturan bermain sederhana, seperti harus minta izin ketika pinjam mainan, mengucapkan terima kasih, dan merapikan mainan bersama-sama. Pendidikan tidak hanya dapat berlangsung di sekolah. Bagi anak, rumahlah tempat ia pertama kali menimba ilmu dan belajar berbagai hal melalui kegiatan sehari-hari yang dilakukannya bersama keluarga. Semoga informasi di atas bermanfaat dan dapat menyemangati Bunda untuk melakukan kegiatan pendidikan anak usia dini di rumah. Kegiatan manakah yang akan Bunda lakukan hari ini bersama si kecil? Sumber: familiesonline.co.uk/child/education/early-learning/what-your-child-will-do-at-playgroup id.theasianparent.com/apakah-yang-harus-dipelajari-oleh-anak-usia-dini-di-sekolah-dan-di-rumah/3/ Diakses pada 3 September 2016  

Senin, 15 Oktober 2018

Pembicaraan Kecil Tentang 8 Pilar Sukses Mendidik Anak


Dunia pendidikan sebenarnya sudah menarik perhatian saya sejak kuliah pada Jurusan Sastra Indonesia. Adapun buku agama Islam tentang pendidikan anak adalah salah satu jenis buku yang banyak menghiasi rak-rak buku saya selepas kuliah pada jurusan tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa pengetahuan saya tentang hal itu sudah luas atau saya sudah mahir mendidik anak, ya! Belum.
Buku pertama yang saya beli dari jenis buku itu berjudul Seni Mendidik Anak 2 karya Syaikh Muhammad Said Mursi. Buku itu merupakan buku terjemahan yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar pada bulan Desember 2004. Saya membelinya ketika mengunjungi Solo Book Fair 2006 pada tanggal 18 April 2006. Meskipun demikian, saat ini saya tidak akan menguraikan isi buku tersebut. Loh!

Saya sedang tertarik membicarakan 8 Pilar Sukses Mendidik Anak karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr. Buku itu merupakan buku yang diterjemahkan oleh  Zakariyal Anshari dan diterbitkan bulan Maret kemarin oleh Pustaka Khazanah Fawa’id. Saya membelinya di sebuah toko buku pada tanggal 20 Juni kemarin bersamaan dengan sepuluh buku lainnya. Wah!
Pustaka Khazanah Fawa’id mengemukakan pada bagian pengantar bahwa “Setiap orang ingin memiliki keturunan. Karena anaklah yang akan meneruskan nasabnya, membantunya dalam urusan dunia, dan penyejuk hatinya.” Pustaka Khazanah Fawa’id juga mengemukakan bahwa “… anak yang shalih dan shalihah-lah yang akan berbuat baik (berbakti) kepada kedua orang tuanya kelak di dunia dan di akhirat.” Itu menunjukkan bahwa anak yang shâlih/shâlihah merupakan penerus nasab yang menyejukkan hati karena gemar berbakti. Setuju?
Fondasi agung tentang mendidik anak–sebagaimana dikemukakan Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr pada bagian pendahuluan–adalah Alquran (Al-Qur’ân) surah At-Tahrim [66] ayat 6. Terjemahannya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras ….” Beliau selanjutnya mengemukakan bahwa mendidik anak sama dengan menunaikan amanah sehingga orang tua akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah (AllâhSubhânahu wa Ta’âlâ. Adapun menyia-nyiakan anak sama dengan meremehkan amanah sehingga akan mendapat hukuman. Anak yang disia-siakan bisa jadi akan keluar dari fitrah sehingga menyimpang dalam masalah agama, akidah (aqidah), dan akhlak (akhlâq). Oleh karena itulah, 8 Pilar Sukses Mendidik Anak penting diketahui orang tua agar dapat menunaikan amanah dengan mulia.
Pilar pertama adalah memilih istri yang shâlihah. Itu menunjukkan bahwa buku ini secara khusus ditujukan untuk kaum pria. Meskipun demikian, dapat pula ditujukan untuk kaum wanita dengan menggantinya menjadi “jadilah wanita/ibu yang shâlihah”. Menurut Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, “… ia akan menjadi penolongmu dalam mendidik, mengajarkan adab mereka (anak-anak) dan mengasuh mereka dengan pengasuhan yang baik. … ia tidak akan membahayakan agama dan akhlak mereka.” Dengan demikian, ibu yang shâlihah adalah pendidik yang baik dan tidak akan membahayakan agama dan akhlak anak.
Pilar kedua adalah mendoakan anak. Jika sebelum kehadiran anak, berdoa agar dianugerahi anak shâlih. Adapun setelah kehadiran anak; berdoa agar anak senantiasa diberi petunjuk, kebaikan, dan teguh di atas agama.
Pilar ketiga adalah memberi nama yang baik untuk anak. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr memberikan contoh, “Seperti engkau menamainya dengan Abdullah, Abdurrahman, Muhammad, Shalih, dan semisalnya nama-nama baik yang dapat mengingatkannya dengan ikatan kebaikan dan ibadah serta hal yang terpuji.” Beliau selanjutnya berpendapat bahwa “Sepantasnya orang tua menjelaskan kepada anak arti dari namanya, ….” Berdasarkan itu, dapat dikemukakan bahwa nama yang baik adalah nama yang dapat mengingatkan anak pada hal-hal yang terpuji.
Pilar keempat adalah berbuat adil kepada anak-anaknya. Tidak berbuat adil akan menimbulkan hasad yang menyebabkan permusuhan dan berujung terputusnya tali silaturahmi (shilaturrahim) di antara mereka. Anak pun bisa mendurhakai orang tua.
Pilar kelima adalah berlemah lembut kepada anak. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menjelaskan maksudnya, “Bergaul dengan mereka penuh kasih sayang dan kebaikan. Waspada dan jauhilah sikap keras, kejam, dan antipati.” Sikap tersebut menyebabkan kecintaan dan kedekatan anak kepada orang tua sehingga orang tua mudah mengarahkan anak pada kebaikan. Begitu pula anak, akan mudah menerima nasihat dari orang tua.
Pilar keenam adalah senantiasa memberikan nasihat. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menjelaskan bahwa nasihat tersebut dimulai dari mengajarkan akidah, kewajiban-kewajiban Islam dan rukunnya, serta perintah-perintah syariat. Bahkan, nasihat tersebut termasuk memberikan peringatan tentang dosa-dosa besar dan seluruh larangan syariat.
Pilar ketujuh adalah menjaga anak dalam pergaulan. Menurut Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberikan permisalan tentang pengaruh teman kepada temannya dalam kebaikan dan keburukan. Hal itu dapat dibaca dalam sebuah hadis (hadîts) yang diriwayatkan oleh Bukhârî (No. 5534) dan Muslim (No. 2628). Oleh karena itu, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menasihatkan bahwa “Hendaknya para orang tua memperhatikan anak-anaknya dengan siapa mereka berteman, dengan siapa duduk-duduk di sekolah dan sebagainya. Dan selalu memantaunya.” Ditegaskannya bahwa teman pada zaman ini termasuk televisi dan ponsel pintar (smartphone). Jika tidak dipantau orang tua, bahayanya sangat besar. Anak bisa menyimpang dan berbuat mungkar (munkar).
Pilar kedelapan adalah menjadi teladan yang baik. Hendaknya perkataan orang tua tidak berseberangan dengan perbuatannya. Jika tidak, anak akan bersikap masa bodoh terhadap nasihat orang tua. Menurut para ulama–sebagaimana dikemukakan Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr–teladan dengan perbuatan lebih mengena bagi anak dibandingkan dengan perkataan.
Nah, itulah pembicaraan kecil tentang 8 Pilar Sukses Mendidik Anak. Selamat mengaplikasikan dan bertawakal. Semoga buahnya dapat dipetik di dunia dan akhirat. (dakwatuna/hdn)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2018/06/30/93113/pembicaraan-kecil-tentang-8-pilar-sukses-mendidik-anak/#ixzz5U3vwu2lH 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook